Perdamaian di Depan Mata-Prabowo Turun Gunung

Perdamaian di Depan Mata-Prabowo Turun Gunung


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Kondisi di wilayah Timur Tengah masih terus memanas. Ini disebabkan serangan Israel secara membabi buta di wilayah Gaza, Palestina, yang menewaskan hingga 37 ribu lebih warga sipil.

Sejauh ini, belum ada tanda konkret perang akan berakhir. Meski begitu, diskusi internasional di forum PBB mulai mengarah pada resolusi konflik dan perdamaian jangka panjang.

Berikut perkembangan terbarunya sebagaimana dirangkum CNBC Indonesia dari berbagai sumber, Selasa (11/6/2024) :

1. Perdamaian di Depan Mata?

Dewan Keamanan PBB telah mengadopsi resolusi yang menyerukan Hamas untuk menyetujui proposal tiga fase penyanderaan untuk gencatan senjata versi Amerika Serikat (AS). Ini pertama kalinya badan tersebut mendukung perjanjian perdamaian komprehensif untuk mengakhiri perang Gaza.

Empat belas anggota dewan memberikan suara untuk resolusi pada Senin (10/6/2024) malam waktu setempat. Tidak ada yang menentang, dan hanya Rusia yang abstain terhadap resolusi itu.

Proposal tersebut terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah gencatan senjata. Tahap kedua adalah pembebasan semua sandera dan tahap ketiga adalah peluncuran upaya rekonstruksi besar-besaran.

Resolusi tersebut juga menyerukan Hamas untuk menerima perjanjian tersebut dan mendesak kedua belah pihak “untuk sepenuhnya melaksanakan persyaratannya tanpa penundaan dan tanpa syarat”.

2. Komentar Hamas 

Kelompok Palestina Hamas, Jihad Islam, dan Otoritas Palestina menyambut baik resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB yang diajukan AS, yang mendukung usulan gencatan senjata di Gaza. Dalam pernyataannya, Hamas mengatakan siap bekerja sama dengan para mediator untuk menerapkan prinsip-prinsip rencana tersebut.

“Hamas menyambut baik apa yang termasuk dalam resolusi Dewan Keamanan yang menegaskan gencatan senjata permanen di Gaza, penarikan penuh, pertukaran tahanan, rekonstruksi, pengembalian pengungsi ke daerah tempat tinggal mereka, penolakan terhadap perubahan demografi atau pengurangan apa pun di wilayah Jalur Gaza, dan pengiriman bantuan yang dibutuhkan kepada rakyat kami di Jalur Gaza,” kata kelompok militan itu dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Reuters, Selasa.

3. Pengakuan Mengejutkan Netanyahu 

PM Israel Benjamin Netanyahu memberi pernyataan mengejutkan. Ia mengatakan negaranya tengah berada dalam situasi sulit.

Pasalnya, Israel saat ini terlibat dalam perang di berbagai front, tetapi di waktu bersama juga mendapat tekanan internasional. Menurut penyiar publik Israel KAN, Netanyahu mengatakan Israel berperang di selatan di Jalur Gaza, di utara berarti Lebanon selatan dan di Yudea dan Samaria, atau Tepi Barat.

“Israel berperang di berbagai front sementara tekanan internasional yang berat diberikan kepada kami,” katanya setelah penilaian keamanan di markas Komando Pusat Angkatan Darat di Yerusalem pekan lalu, menurut surat kabar The Times of Israel yang dikutip Anadolu Agency.

“Saya dapat menjamin satu hal, apa pun yang terjadi sebelumnya tidak akan terjadi lagi,” katanya tentang serangan 7 Oktober.

“Kami akan mengubah kenyataan ini.”

4. Politik Israel Memanas

Kondisi politik Israel memanas. Ini disebabkan pengunduran diri salah satu kabinet perang Netanyahu, Benny Gantz, yang disebabkan belum adanya proposal pasca perang yang disetujui Tel Aviv.

“Keluar dari pemerintahan adalah keputusan yang rumit dan menyakitkan,” kata Gantz dalam pernyataan yang disiarkan televisi pada Minggu malam di Israel.

“Netanyahu mencegah kita untuk bergerak maju menuju kemenangan sejati [di Gaza]. Itulah sebabnya kami meninggalkan pemerintahan darurat hari ini dengan berat hati, tetapi dengan sepenuh hati,” tambahnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *